11 Langkah Strategis Menghadapi Pertempuran Dunia Kerja yang Semakin Kompetitif

SunTzu adalah
seorang ahli strategi perang dari negeri Tiongkok, hidup sekitar 2500 tahun
yang lalu, dan hingga kini kisahnya masih melegenda. Strateginya tidak hanya
bisa diterapkan di medan perang, namun cocok pula diterapkan dalam berbisnis
(strategi marketing), atau menghadapi peperangan dunia kerja yang makin kompetitif.
Strategi Sun Tzu sangat fenomenal ini tak lekang
oleh waktu, tak hanya meliputi medan perang akan tetapi meliputi segala bidang
kehidupan. Oke gais, kali ini kita akan fokus pada penerapannya dalam
persaingan dunia kerja yang kompetitif.
Sebelum lanjut, siapin dulu kopi atau teh hangat untuk
anda seruput agar Anda makin pinter, seruput dulu yok…..
Sefenomenal apa sih strategi Sun Tzu dalam
melejitkan karir seseorang, berikut ulasan 11 strategi Sun Tzu yang layak untuk
Anda kenang.
 

1.Kenali musuh dan Kenali diri sendiri, maka Anda bisa berjuang dalam 100
Pertempuran tanpa resiko kalah

Agar menjadi orang yang berhasil, selalu diawali
dengan pemahaman diri. Mengenal siapa diri kita, mengetahui tujuan hidup,
mengetahui kekuatan dan kelemahan. Terkadang musuh yang harus ditaklukan tak
selamanya berasal dari luar, melainkan di dalam diri kita sendiri.
Contohnya: kesombongan, kurang sabar, rasa malas,
kurang fokus, kebiasaan menunda-nunda, dan masih banyak lagi, silahkan kenali
kelemahan diri Anda sendiri.
Saya tidak sekedar bicara namun sudah
membuktikannya sendiri. Saya pernah menjadi Manajer Cabang di sebuah lembaga
keuangan mikro, karena tidak bisa mengendalikan diri, jadi terkesan sombong dan
kurang sabar terhadap bawahan, puncaknya saya didemosi. Saat itu pula
kepercayaan akan sulit kita dapat dari Pimpinan.
Semoga bisa menjadi pelajaran bagi Anda, itu
semua karena sikap dan kesombongan diri sendiri!

2.Gunakan kekuatan normal untuk bertempur dan gunakan kekuatan luar biasa
untuk meraih kemenangan.

Jika Anda mau selalu eksis, tonjolkanlah sisi
positif Anda, jangan hanya bertingkah seadanya seperti kebanyakan orang. Anda
perlu mengetahui ukuran standart yang berlaku dan berusahalah untuk bertindak
lebih.
Sekarang Anda perhatikan orang-orang disekitar
Anda. Mereka yang dipilih untuk menempati jabatan atau posisi tertentu biasanya
dianggap mempunyai kelebihan. Contohnya lebih cepat, rajin, cerdas, dan kuat.
Bukannya hanya bisa bersilat lidah dan hanya rajin jika diawasi.
Setelah didemosi, hampir satu tahun saya
introspeksi diri, merefleksikan semua perbuatan yang telah lalu dan berusaha
untuk memperbaiki diri. Saya selalu berusaha antusias dan temotivasi, beruntung
kini setelah 3 tahun berlalu saya mulai percaya diri, meskipun bukan untuk
menduduki jabatan penting, namun saya selalu ingin berbuat lebih baik.

3.Kemungkinan mendapat kemenangan terletak pada serangan. Pada umumnya
mereka yang menduduki medan perang terlebih dahulu dan menantikan musuhnya.

Agar menjadi seorang pemenang, jadilah pribadi
yang aktif dan kreatif bukan menunggu perintah. Selama Anda sibuk menunggu,
“MUSUH” diluar aktif bergerak habislah Anda. Tunjukan sikap agresif bahkan
sikap ambisius sekalipun asalkan tidak merugikan orang lain, jalani saja.
Memiliki inisiatif memang sangat penting,
terlebih dalam situasi genting. Sampaikan ide-ide kreatif pada rapat, libatkan
diri Anda pada setiap kegiatan yang diadakan di kantor. Jika perlu, jadilah
seorang bintang lapangan,  bukan pemain
cadangan.
Sebagai bukti dari keseriusan saya bekerja, saya
berusaha untuk bekerja ekstra agar bisa melebihi target yang ditetapkan. Hasilnya
kami bisa melebihi target dan saya mendapat kehormatan untuk menyampaikan presentasi
terkait tips dan kiat-kiat dalam mencapai target pecairan kredit. Anda juga
pasti bisa jadi pemenang!

4.Kecepatan merupakan inti peperangan. Yang paling dihargai dalam perang
adalah kemenangan yang cepat diraih, bukan operasi berkepanjangan.

Sekitar 2500 tahun yang lalu pada saat SunTzu
melahirkan teori strateginya, penekanan tentang menghargai waktu telah di
dengungkan. Apalagi diera globalisasi dan modernisasi seperti sekarang semua
serba cepat,bahkan setiap detik dinilai dengan uang.
Agar bisa meraih kemenangan, kita harus bergerak
lebih cepat. Begini analogi sederhananya, saat pimpinan memerintahkan Anda
untuk berjalan, jauh lebih baik jika Anda berlari agar cepat sampai, asal tidak
ceroboh.

5.Tujuan mereka hendaknya mengambil segala yang ada dikolong langit dalam
keadaan utuh lewat keunggulan strategi.

Agar bisa meraih keberhasilan (apappun itu) kita
butuh yang namanya strategi, maka rancanglah sebuah rencana yang terukur. Dalam
hal ini kita tidak ada kebetulan apalagi keberuntungan. Rencana yang baik saja
belumtentu membuahkan hasil, namun setidaknya bisa mengarahkan kita pada tujuan
yang tepat, lebih fokus dan memiliki langkah antisipatif.
Dalam membuat strategi, kita wajib memiliki visi
dan keterampilan dalam melihat inti persoalan dan yang paling penting memiliki pola
pikir kedepan. Jika diibaratkan kendaraan, visi bisa menuntun Anda pada harapan
dan tujuan yang saat ini mungkin terlihat sangat mustahil.

6.Rebutlah rancangan strategis Anda agar musuh takjub, maka Anda dapat
merebut kota-kota musuh serta menggulingkannya.

Pada strategi ini, SunTzu memberi isyarat untuk
tetap bersikap konsisten.  Jika Anda
sudah membuat target dan stategi untuk meraihnya, lakukanlah dengan konsisten,
jangan sekali-kali memutar balik atau berbelok.
Fokus pada tujuan dan kelebihan kemudian
berusahalah untuk mencapainya, niscaya Anda akan mencapai tujuan/sasaran yang
ingin Anda tuju.

7.Memenangkan pertempuran dan merebut lahan dan kota, tetapi gagal
mengkonsolidasikan prestasi, sma saja dengan membuang waktu dan tenaga.

Hindari sikap mudah berpuas diri, karena
seringkali hal ini menjegal kesuksesan Anda. Sedikit saja pujian, Anda langsung
melambung ke langit ke tujuh, sayangnya lupa padahal Anda sedang di bumi.
Ada pepatah mengatakan: “mempertahankan jauh
lebih sulit daripada merebut”. Ada pula sebuah doktrin klasik yang berbunyi:
“penyebab terbesar kekalahan adalah kemenangan” atau yang lain lagi:
“Kesombongan adalah awal kehancuran”. Camkanlah!

8.Ketika serangan elang berhasil meremukan tubuh mangsanya, itu berkat
ketepatan waktunya. “Waktu” serupa dengan ditariknya pelatuk.

Keahlian dalam membaca situasi dan waktu ibarat
senjata paling mematikan. Kesempatan bisa muncul kapan saja dan dimana saja, maka
penting bagi kita agar mampu membaca peluang bahkan sanggup menciptakan peluang
dan berhasil mengkonversinya menjadi kesuksesan.
Dalam presentasi saya, salah satu penekanannya
adalah ketepatan waktu dalam closing, karena jika momennya tidak pas, klien
Anda akan meninggalkan Anda dan bukan tidak mungkin malah beralih pada pesaing
Anda.

9.Komandan yang handal dalam perang meningkatkan pengaruh moral dan patuh
kepada hukum serta peraturan. Dengan demikian ia berkuasa mengendalikan
kemenangan.

Moral seringkali di analogikan dengan integritas.
Kesungguhan seseorang dapat dilihat dari integritasnya saat bekerja, biasanya
ditunjukan dengan sikap paling bisa dipercaya dan diandalkan, serta memiliki
antusias yang tinggi untuk meraih kesuksesan, entah sebagai Pemimpin maupun
Bawahan.
3 tahun lalu saat saya sudah diambang pemecatan, seorang
Top Manajemen mengingatkan saya satu hal yaitu integritas. Begini katanya, jika
kamu memang merasa tidak salah tak perlu takut, tetap tunjukan integritas mu
dalam bekerja, apapun jabatan mu.
Saat itu saya berjanji pada diri sendiri, saya
akan selalu tunjukan kinerja yang baik meskipun tak dilihat atau luput dari
perhatian atasan.

10.Seorang Jenderal seharusnya tidak banyak bicara, sehingga bisa menyimak
dengan jelas.

Dalam strategi ini kita diajarkan untuk menjadi
pendengar yang baik. Jika seorang Jenderal (pemimpin tentinggi dalam perang)
saja harus lebih banyak mendengar daripada berbicara, apalagi seorang prajurit.
Sederhananya, apapun posisi Anda entah itu
pimpinan maupun bawahan, Anda harus lebih banyak mendengar agar semakin bijaksana
bukan bijaksini. Semakin banyak kita mendengarkan, informasi yang didapat akan
jauh lebih banyak.
Saya ingat akan satu hal yaitu keterampilan menjadi
pendengar yang baik, kelihatannya mudah namun sangat sulit untuk di praktekan. Dengan
mendengarkan kita jadi tahu tujuan yang disampaikan lawan bicara kita.
 

11.Meraih 100 kemenangan dalam 100 peperangan bukanlah puncak keterampilan,
Menaklukan musuh tanpa berperang merupakan kesempurnaan tertinggi.

Saat menghadapi peperangan, entah itu bersaing
dengan rekan kerja untuk merebut satu kursi panas, berhadapan dengan pimpinan,
dengan klien atau apapun yang Anda hadapi, bermainlah yang rapi.
Kalahkan musuh secara elegan dengan cara
menghindari kecurangan, saling sikut dan jilat menjilat. Ada sebuah pepatah
kuno namun masih sangat relevan berbunyi: “untuk mengusir tikus kita tak perlu
membakar lumbung padi”
Dalam kondisi sekarang, mengusir tikut sangat
mudah bisa dengan lem tikus yang sudah banyak tersedia di toko atau membuat
perangkat dengan umpan yang oke punya, gampang bukan?
Tetap rendah hati dan semangat dalam bekerja,
tunjukan bahwa Anda memiliki integritas dimanapun dan apapun jabatan Anda
sekarang. Bekerja tak sekedar mengejar jabatan melainkan pembuktian integritas,
dedikasi dan sikap melayani dalam mengemban tanggung jawab. (DN)

 

Keep Spirit….!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *