Catatan Perjalanan ke Perbatasan Indonesia Malaysia di Aruk – Sambas

Salah
satu perbatasan Indonesia Malaysia di Kalbar yang pernah saya datangi, dan
cukup sering adalah di PPLB Aruk – Sambas. Ada sih kunjungan ke perbatasan lain
seperti di Jagoi Babang – Bengkayang pada tahun 2006, namun masih kurang
berkesan.
Wilayah
perbatasan Indonesia Malaysia terletak di Dusun Aruk, Desa Sebunga, Kecamatan
Sajingan Besar, Kabupaten Sambas – Kalbar. Dari pusat kota kabupaten Sambas
sekitar 80 – 90 KM, sedangkan dari Ibu kota provinsi Kalbar sekitar 300an KM.
Yang
paling berkesan dan cukup sering saya kunjungi adalah perbatasan Indonesia
Malaysia yang ada di Aruk-Sambas. Karena memang pada tahun 2011 hingga 2013 sempat
saya bertugas diwilayah sambas atau lebih tepatnya CU Pancur Kasih di Sambas.
Jadi
setiap bulan kami harus pergi kesana untuk melakukan pelayanan kepada Anggota
atau nasabah yang tinggal disana. Perjalanan yang ditempuh lumayah jauh,
mengingat jalan yang dilalui tidak mulus alias jalan berbatu.
Catatan Perjalanan ke Perbatasan Indonesia Malaysia di Aruk - Sambas

 

Perjalanan ke Perbatasan Indonesia
Malaysia

Untuk
sampai ke daerah Aruk, jaraknya dari kota Kabupaten Sambas sekitar 80 hingga 90
KM. Sedangkan waktu tempu diperkirakan berkisar antara 2 hingga 3 jam,
tergantung kecepatan.
Medan
jalan yang kita lalui 90% jalan tanah berbatu, dengan tingkat kesulitan yang
lumayan, terlebih saat hujan. Dipelukan ketelitian dan kehati-hatian ketika
berkendara, terutama sepeda motor.
Sedangkan
perjalanan menggunakan mobil pribadi, bisa lebih lama dan lebih banyak
guncangan. Mungkin berkisar antara 3 hingga 4 jam, kecuali sopir yang
berpengalaman, bisa lebih cepat. Oleh karenanya transportasi paling favorit
adalah sepeda motor.
Untuk
angkutan umum, hanya ada satu kali dalam sehari yaitu pagi baik yang berangkat
dari Sambas maupun dari Aruk. Selama bertugas disana, saya tidak pernah menggunakan
angkutan umum untuk pergi kesana. Tau sendirilah, jika terlalu banyak
goncangan, bisa mabuk darat.
Sebelum
ada jalan, masyarakat diwilayah tersebut menggunakan jalur sungai sebagai
alternatif transportasi. Tentunya waktu tempuh cukup lama, bisa seharian
menghabiskan waktu diperjalanan.

Mata Uang yang digunakan

Mata
pencaharian kebanyakan penduduk setempat adalah petani dan pekebun. Nah, untuk
menjual hasil pertanian dan perkebunan, mereka biasanya menjualnya ke Malaysia.
Jika sudah begini, transaksi pembayaran menggunakan Ringgit Malaysia.
Jika
pembelinya berasal dari masyarakat lokal baru pembayaran menggunakan rupiah. Soal
nilai tukar, itu merupakan kesepakatan kedua belah pihak. Pengalaman saya pada
waktu tahun 2012, 1 RM dihargai Rp 3.000,-.
Sempat
juga ngumpulin sekitar RM 50, ya itung-itung untuk koleksi aja sih. Jadi masyarakat
di perbatasan terbiasan menggunakan dua mata uang yaitu Rupiah dan Ringgit
Malaysia.

Produk dan Sektor Perdagangan

Untuk
produk yang dijual dan dikonsumsi oleh masyarakat yang tinggal disekitar
perbatasan kebanyakan berasal dari Malaysia. Mulai dari beras, gula, minuman,
kue-kue, gas, hingga semen didatangkan dari Malaysia.
Hal
ini mereka lakukan karena memang perbandingan harganya cukup jauh jika mendatangkan
produk Indonesia. Untuk menyesuaikan biasa angkut barang, sebagian besar produk
Lokal, harganya sedikit lebih mahal.
Dalam
hal ini, tidak ada yang bisa disalahkan karena memang untuk bertahan hidup
disana, jauh lebih sulit terutama pada musim paceklik. Pada waktu disana, kami
pun sering berbelanja produk luar, seperti daging ayam, gas 15 KG dan beras.

Penduduk Asli

Penduduk
asli daerah perbatasan Indonesia Malaysia yang tinggal di Aruk, mayoritas
adalah suku Dayak Bakati’ dan Dayak Badamea yang terletak di satu Desa Sebunga
dan Desa Kaliau.
Adapun
petugas di PPLB maupun para Guru serta para Pegawai adalah orang pendatang yang
berasal dari berbagai daerah di Kalbar seperti Pontianak, Bengkayan dan
Mempawah.
Khusus
petugas pengamanan yang berasal dari TNI, berasal dari luar Kalbar. Namun mereka
membaur dengan masayarakat sekitar, bahkan ada juga yang akhirnya mendapat
jodoh dan menikah dengan wanita di daerah tersebut.

Mata Pencaharian Masyarakat

Sebagian
besar masyarakat penghuni wilayah perbatasan Indonesia Malaysia di Aruk adalah
petani dan pekebun. Hasil pertanian seperti sahang/lada, kebanyakan dijual ke
Malaysia. Selain lada, hasil lain adalah karet, aneka buah lokal seperti
durian, cempedak dan (duku) langsat.
Hasil
kerajinan seperti anyaman seperti Bidai juga ada, namun tidak begitu dominan
dan hanya segelintir orang yang menekuni. Produk lain seperti Kayu dan Meubel
masih jarang ditemui, karena bahan baku sudah terbatas.
Selain
petani dan pekebun, banyak juga yang bekerja sebagai pedagang dan bekerja pada
perusahaan perkebunan kelapa sawit yang ada di wilayah tersebut.
Berdasarkan
data PBS tahun 2010, Kepadatan penduduk 7 jiwa/km2, dengan laju pertumbuhan
3,34%. Total jumlah penduduk seluruh kecamatan Sajingan Besar yang terdiri dari
4 Desa berjumlah 10.177 orang.

Pembangunan di Wilayah Perbatasan

Jika
ditanya soal pembangunan, memang masih terkesan kurang, hanya ada jalan yang
menghubungkan dusun dan kampung sudah lebih baik. Pembangunan jalan rabat beton
yang menghubungkan antar kampung lumayan memantu kelancaran transportasi.
Setidaknya
jalan bisa dilalui sepeda motor, sehingga urusan dan perekonomian semakin
lancar. Dengan memadainya jalan antar kampung, potensi yang dimiliki oleh
wilayah tersebut akan semakin berkembang.
Fasilitas
pendukung seperti puskesmas, sekolah, perkantoran dan sarana pendukung lain
sudah memadai. Hanya saja ada yang masih belum dimaksimalkan, mengingat belum
berfungsi secara maksimal.
Sekolah
yang ada dirasakan sudah lengkap mulai dari SD hingga SMK. Sedangkan untuk SMU
masih dalam tahap pembangunan, mungkin 2016 sudah berfungsi.

Bangunan Megah

Selama
berada disana, saya kagum dengan pembangunan diwilayan perbatasan. Memang sudah
banyak bagunan pemerintah didirikan, namun belum difungsikan secara maksimal.
Seperti
bangunan perkantoran, perumahan pegawai, gedung pertemuan hingga bangunan
pasar. Memang belum berfungsi maksimal, namun jika sudah lebih efektif untuk
wilayah perbatasan, pasti wilayah tersebut akan semakin maju.
Hanya
ada satu pekerjaan rumah yaitu pembangunan infrastruktur jalan masih kurang
memadai. Untuk urusan tempat kesehatan, perawat, penerangan listrik dan
komunikasi tidak menjadi masalah.
Ketika
mengadakan sosialisasi dan pertemuan, kami biasanya memanfaatkan gedung
pertemuan yang ada disitu. Memang minim fasilitas, tapi lumayan untuk menampung
banyak peserta.

Kesan

Saya
merasa terkesan dengan kearifan penduduk setempat, mereka masih menjaga
kelestarian adat serta budaya. Memegang teguh kebudayaan ditengah arus
modernisasi, seperti sekarang memang terasa sulit.

 

Kabar
terbaru yang saya dapat, perbaikan jalan dari Sambas – Aruk sekarang sudah
dalam tahap pengerjaan. Mudah-mudahan segera terselesaikan, sehingga
pembangunan dapat merata terutama diwilayah perbatasan.
Semoga pembangunan di wilayah Perbatasan Indonesia Malaysia semakin maju dan merata. Sehingga mereka yang tinggal di daerah perbatasan tidak lagi yang merasa anak tiri.

10 Replies to “Catatan Perjalanan ke Perbatasan Indonesia Malaysia di Aruk – Sambas”

  1. Cilembu thea

    membaca perjalanannya menuju perbatasan Indo-Malaysia di sambas sepertinya sangat menarik hati banget kang, keberadaan warga di perbatasan sepertinya lebih nyaman dari pada warga perbatasan papua Nugini yang pernah saya liat langsung

  2. PURNAMA

    hem apakah masih seperti dulu mas perbatasan indonesia dan malaysia yang sangat minim pendidikan disana, sungguh memperihatinkan jika saya dulu sering mendengar info mengenai perbatasan negara,saya juga pengen nih jalan-jalan kesana

    • daniel

      Masih memprihatinkan sih mas, namun jk dibandingkan dgn dulu sih udh lebih baik. Hanya saja jalan masih krg memadai

    • daniel

      Sangat beekesan mas, sampai skrg rasanya mau lg kesana, dan mungkin udah lebih baik

  3. phengkwang

    tapi pak Daniel Nagata belakangan saya dengar jalannya sudah di kerjakan,,apa benar adanya???

    • daniel

      Benar sekali pak, teman saya ada yang berasal dari sana, lumayan banyak sih. Bulan september yang lalu ketika ia pulang, jalan sebagian sudah ditimbun dan bawa mobil avanza udah lancar dan nggak takut amblas…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *