Kisah Pohon Jambu Pelindung Rumah

4
tahun lalu, setumpuk ranting pohon di buang di depan rumah kosong yang sepi tak
berpenghuni. Mungkin lantaran rumahnya jarang dikunjungi, akhirnya ada orang
iseng yang menjadikan depan rumahnya sebagai tempat pembuangan sampah atau
ranting pohon.
Pemilik
rumah jarang sekali menengok keadaan rumahnya, paling sekedar mampir untuk
melihat keadaan. Kalaupun tinggal di situ hanya sebatas tempat melepas penat
setelah seharian bekerja.
Terik
mentari, Angin, debu dan hujan setiap hari menerpa setumpuk ranting tadi,
hingga akhirnya ada satu ranting yang mulai berakar. Daunnya yang kering mulai
berterbangan ditiup angin, ranting kecil yang kering mulai ikut sirna diterpa
hujan dan angin.

Berganti Tahun

Hari
berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan hingga akhirnya
tahun pun ikut berganti. Waktupun mulai berlalu, dan semakin berlalu, semilir angin sepoy meniup dedaunan kering yang berirama memanjakan kalbu.
Tahun
pertama, tumpukan ranting dan daun yang tadinya kering mulai beterbangan
diterpa angin. Yang tersisa hanya sebatang ranting kecil yang mulai berakar
yang seolah tak ingin beranjak diterpa angin.
Wah,
mulai ada tanda kehidupan nih pikir ku, biarin aja deh mungkin juga kelak pohon
ini bisa bermanfaat bagi rumah ini.
Tak
terasa setahun berlalu, ranting yang berakar tadi mulai berdaun dua hingga 5
helai banyaknya. Ranting yang semula kering mulai patah dan tumbuh tunas baru
di batang pohon yang mulai menghijau.
Dua
tahun berlalu, dahan dan ranting mulai tampak di sekeliling batangnya. Kini ranting
tadi mulai tumbuh menjadi pohon yang memiliki batang yang kokoh, tingginya
sudah melebihi tinggi badan ku.
Aku
jadi terheran-heran, padahal pohon ini tidak pernah ditanam, apalagi di beri
pupuk. Mulanya hanya setumpuk ranting pohon yang di pangkas lalu dibiarkan
begitu saja. Untunglah sekelingnya tidak sempat tumbuh rumput liar, karena
memang rutin dibersihkan, bahkan hampir setiap minggu.
Tiga
tahun berlalu, batang mulai tumbuh subur, akar mulai menjulang ke dasar tanah
mencari tempat yang kuat untuk mencengkram. Dahan dan ranting memang rutin ku
pangkas, agar pohon ini tidak terlalu tinggi melebihi tinggi rumah.
Tapi
setelah di pikir-pikir, ya biarkan saja ia tumbuh anggap aja sebagai pelindung
dari terik mentari menerpa. Meskipun daunnya setiap hari kering dan berguguran,
namun tidak bosan kami membersihkannya.

Sudah Mulai Belajar Berbuah

Empat
tahun lebih sudah berlalu, pohon jambu pelindung mulai berbunga. Satu tangkai bakal
buah ada 5 buah jambu. Kelimanya sama-sama baiknya. Inilah buah pertama dari
pohon yang sama sekali tidak diduga akan menjadi pelindung didepan rumah kami.
Saat
buahnya mulai ranum, segera kami petik untuk merasakan kesegarannya. Hmmm rasanya
begitu manis dan seger, pikir ku sayang buahnya Cuma ada 5, tapi nggak masalah.
Bersyukur aja bahwa pohon ini sudah mulai belajar memberi manfaat kepada kami.
Kini,
pohon itu tidak pernah berhenti berbunga dan menghasilkan buah. Ya meskipun
kadang tidak semanis buah pertama, tapi cukup menggoda mereka yang sering
melewati jalan itu. Bahkan beberapa anak dengan sengaja ambil buah jambu untuk
melepas haus.
Saya
bilang sama isteri saya, biarkan saja anak-anak itu ambil buah jambu, toh kita
juga jarang petik bauhnya. Dari pada jatuh semua ke tanah, mending biarin
anak-anak bergelantungan di pohonnya untuk sekedar ambil buahnya. Toh pohon ini
sekarang tidak berhenti berbunga dan berbuah.
Terima
kasih pohon jambu pelindung, kini kau telah menaungi seluruh rumah kami dari
terpaan terik mentari yang beranjak membakar kulit. Terima kasih pula, kini kau
telah menghasilkan buah ranum yang begitu menggoda untuk dipetik.
Terima kasih
pula kini kau pun telah ikut menghijaukan lingkungan disekitar kami hingga
membantu kami menyerap debu sebelum masuk ke rumah.

 

Terima
kasih pohon jambu telah melindungi rumah kami!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *