Masalah Datang untuk Menguatkan Bukan Melemahkan, Percayalah! [Nasehat Sok Bijak]

Masalah
selalu setia menghampiri siapa saja yang mendiami planet bernama “BUMI”. Entah itu
masalah kecil ataupun besar, masalah penting maupun masalah sepele. Selama
masih hidup, manusia tak bakal lepas dari yang namanya masalah, menurut saya
pernyataan ini sangat benar.
Oleh
karenanya kita tidak bisa menghindar apalagi lari dari masalah. Jika masalah
diibaratkan tonjokan atau tendangan, mungkin masih bisa kita hindari atau
bahkan lari jika tidak ada kemungkinan menang.
Sehingga kesimpulan awal saya
adalah Masalah merupakan anak tangga dalam mencapai Tujuan. Sangat-sangat mainstream
sih…bro… ya emang begitu kenyataannya.
Dalam
berbagai kesempatan, saya sering menyampaikan kepada rekan-rekan kerja saya, setiap
masalah, jangan sampai bikin kita gelisah. Tak perlu juga frustasi, karena
semua pasti ada solusi.
Kuncinya
sebenarnya sederhana, tidak lari dari masalah melainkan menghadapi masalah
dengan tegar, kemudian menyelesaikannya secara bertahap. Lari dari masalah hanya
akan menambah masalah baru.
Begini
nasihat yang sering saya anggap sebagai “sok bijak”: Masalah yang kita hadapi akan
membuat kita semakin kuat, tentunya jika kita “bermental baja” bukan “bermental
kaca”.
Dulunya
ungkapan atau perkataan “bermental tempe” saya anggap paling sadis, namun ternyata
ada lagi yang lebih sadis yaitu  “bermental
kaca”.
Masalah Datang untuk Menguatkan Bukan Melemahkan, Percayalah!
Kenapa
paling sadis?
Jadi gini
sobat,…
Kaca adalah bahan yang tak bisa didaur ulang, jika pecah habis perkara. Jadi
lebih sadis dari Tempe, dimana tempe masih bisa didaur ulang, setidaknya buat
makanan ternak, ya nggak?
Jadi
menurut saya lebih buruk seseorang bermental kaca, dibanding bermental tempe.
Nah,
untuk meningkatkan kemampuan, tentu kita harus melewati ujian demi ujian,
rintangan demi rintangan hingga akhirnya kita tiba di tempat tujuan.

Analogi sederhana lagi kira-kira
begini:

Seorang
pria bernama “Amat” disuruh ama bosnya untuk memikul balok kayu sepanjang 4
meter, yang jaraknya kira-kira sejauh 500 meter. Balok kayu tersebut memiliki
berat yang terbilang lumayan untuk ukuran “Amat”, apalagi jaraknya cukup jauh.
Nah,
dipertengahan jalan ternyata ada jurang yang lebarnya kira-kira 3,5 meter,
namun karena si Amat membawa balok kayu sepanjang 4 meter tadi, maka itu bisa
dijadikan sebagai jembatan penghubung untuk melewati jurang tadi.
Akhirnya
si Amat berhasil melewati jurang dengan selamat….
Nah,
bayangkan jika si Amat menolak untuk memikul kayu tadi atau ia malah
memotongnya menjadi 2 bagian agar lebih ringan, pasti ia tidak bisa melewati
jurang tadi, bukan?…
Nah
sobat, balok kayu yang saya analogikan sebagai masalah tadi sebenarnya bertujuan sebagai solusi (jawaban) untuk melewati rintangan berupa jurang tadi. Simple bukan? Jadi kenapa
musti repot….
Dalam
kehidupan nyata terkadang kita harus memikul balok kayu yang berat, jika kita
menghindarinya atau bahkan tidak memikulnya, tentu akan menyulitkan kita untuk
menyeberangi jurang yang telah menanti kita didepan.
Kuncinya,
kita harus tahu cara
memotivasi diri sendiri
dan menemukan solusi ketika kita mendapati
kesulitan ditengah perjalanan menuju GOAL.
Jadi bisa dipastikan bahwa setiap masalah yang kita hadapi akan ada jawabannya (solusi), tinggal tergantung kita, sejauh mana kepekaan kita dalam memandang sebuah masalah. Jika kita berpendangan bahwa masalah adalah kesulitan, maka akan membuat kita kerdil.
Satu lagi, tergantung mental juga, jika bermental baja maka setiap pukulan (masalah) akan menempa dan membentuk kita menjadi bagian yang paling baik. Sebaliknya, jika kita bermental kaca, maka masalah (pukulan) hanya akan menghancurkannya hingga menjadi kepingan kecil hingga tak bisa didaur ulang.
Oke,
sobat semoga menjadi lebih kuat dalam menghadapi setiap kesulitan atau masalah
yang setiap hari selalu setia menghampiri kita.

 

Salam!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *