Mengubah Dunia dengan Cara Pandang Kreatif, Termasuk Dimanakah Anda?

Sebelum memulai sharing ini, pertama-tama
saya hendak membagikan sebuah kisah yang anggap sangat inspiratif. Rasa cerita
ini sudah cukup familiar dan sering kita dengar. Mungkin Anda penasaran cerita
apa yang akan saya bagikan?
Baiklah, langsung saja kita simak cerita
selengkapnya.
Di Negeri yang sangat makmur, hidup
seorang Raja yang bijak. Ia amat menyayangi rakyatnya, sehingga ia menyadari betul
bahwa rakyatnya juga perlu diperhatikan.
Suatu hari, Paduka Raja hendak
mengelilingi seluruh negerinya untuk sekedar menyapa rakyatnya. Saat itu Paduka
Raja memutuskan untuk berjalan kaki yang didampingi para pengawalnya.
Karena jalan terjal dan berbatu,
baru saja berjalan beberapa meter, kaki sang raja sudah terluka dan berdarah. Paduka
Raja berkata dalam hatinya, “Pasti rakyatnya juga kesulitan untuk berjalan kaki
untuk melewati jalan ini.”
Mengubah Dunia dengan Cara Pandang Kreatif, Termasuk Dimanakah Anda?

 

Karena kebijaksanaannya, akhirnya
sang raja ingin mengubah seluruh jalan di negerinya dengan cara melapisinya
dengan kulit sapi (maaf, saat itu belum ada semen dan aspal).
Akhirnya Paduka Raja bertitah, “Wahai
para menteri ku, aku ingin melapisi seluruh jalan di negeri ini dengan kulit
sapi, agar ketika aku berjalan kaki, kaki ku tidak akan terluka.”
Singkat cerita para menteri mulai
mengumpulkan semua sapi yang ada dinegeri tersebut. Jumlahnya memang luar biasa
banyak, namun tentu saja tidak cukup untu melapisi seluruh jalan.
Karena titah Raja bersifat mutlak,
tidak ada satu pun menteri yang berani berkomentar apalagi membantah dan para
menteri tetap melaksanakan.
Suatu ketika saat semua orang sibuk,
ada seorang pengembara menghadap dan berbicara kepada Paduka Raja, begini kata
pengembara itu:
 “Wahai paduka Raja, seberapa banyak kulit sapi
yang akan dibutuhkan untuk melapisi seluruh jalan di negeri ini, bukankah ini
sungguh merepotkan? Sesungguhnya Paduka Raja hanya memerlukan dua potong kulit
sapi untuk melapisi kaki paduka Raja agar tidak terluka.”
Konon menurut cerita yang
berkembang, inilah cikal bakan ditemukannya alas kaki yang terbuat dari kulit
yang sekarang kita lebih familiar menyebutnya ‘SANDAL’.
Akhirnya paduka Raja pun sadar dan ia
segera memerintahkan pada Menterinya untuk seketika menghentikan dan mulailah
dibuat alas kaki dari dua potong kulit sapi terbaik. Sang pengembara yang
bijak, diangkat menjadi penasehat spiritual Paduka Raja.

Renungan

Untuk membuat hidup lebih baik
terkadang kita tidak harus mengubah dunia ini. Yang kita perlukan adalah
mengubah cara pandang, sehingga yang wajib berubah adalah hati kita dan diri
kita bukan dunia.
Kita seringkali keliru dalam
menafsirkan dunia yang indah ini. Dunia terkadang dalam benak kita hanya
sebagai bentuk personal, yang paling parah lagi bahwa Dunia kita anggap milik
kita sendiri sehingga tidak ada orang lain yang terlibat didalamnya.
Sama halnya ketika kita ingin nyaman
bekerja, kita cenderung melanggar aturan dan prosedur. Padahal yang lebih
penting disini adalah bagaimana cara kita memandang masalah dan tantangan
pekerjaan kemudian menyelesaikannya.
Kita cenderung ingin mengambil jalan
pintas bahkan melakukan berbagai cara meskipun melanggar. Kita lebih gampang
untuk melakukan kelasalahan, dan lebih berorientasi pada hasil semata bukan
proses.
Tindakan yang kita lakukan terkadang
membahayakan orang lain bahkan diri kita sendiri. Ingatlah bahwa segala sesuatu
yang di ciptakan (dibuat) tentu memiliki tujuan.
Kisah Inspiratif lainnya: Alexander
Flemming dan Penisilin
.

Kita harus akui bahwa jalan yang
kita tempuh dalam kehidupan ini begitu terjal dan berbatu. Jadi manakah yang
akan kita pilih: melapisi setiap jalan dengan kulit terbaik agar kaki tidak
merasa sakit dan terluka ataukah melapisi hati dan pikiran kita dengan sepotong
kulit agar kita mampu melalui jalan menuju tujuan hidup?

7 Replies to “Mengubah Dunia dengan Cara Pandang Kreatif, Termasuk Dimanakah Anda?”

    • daniel

      Sepertinya ini hanya anekdot mas, mungkin si pengarang cerita juga ingin menampilkan sosok sang raja bukan sandalnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *